"DUG!!!" Nia meremas dadanya, lagi! Entah kenapa sejak kejadian MOS kelas X, 2 bulan yang lalu, ia sering meremas dadanya, sakit?
"Nia!!! Nia!!!" teriak Aila sahabat karib Nia. Lamunan Nia buyar, ia lepaskan tangannya dari dadanya. "kenapa lagi? Dada kamu sakit?" tanya Aila harap-harap cemas "eng-enggak papa kok. Aku gak papa kok La, hehe" jawab Nia nyengir. Kini lamunannya sampai kemana-mana, bahkan film India pun ikut terlibat.
Ck! Apa lagi tuch!
"Nia!!! Nia!!! Kak Anjar," Aila memberitahu. Nia tercekat, lamunannya buyar. Kini, matanya hanya memandang orang yang lewat didepannya. Senyumnya terukir dibibir manisnya, bahkan tak sempat matanya untuk berkedip.
"Hei!!!"
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya. Sontak Nia langsung menoleh. "kak Nanang?" lirihnya. Aila yang tahu kedatangan kak Nanang, mantan Nia. Ia buru-buru beranjak pergi tapi tangannya langsung dicegat oleh Nia. Matanya mengisyaratkan 'tetaplah disini, aku tidak mau berdua dengannya'. Aila menurungkan niatnya, ia kembali duduk di samping kiri Nia. Sementara kak Nanang di samping kanan Nia.
"Nia, akhir bulan nanti. Kamu ada acara enggak?"
"memangnya kenapa?"
"kakak mau minta tolong kamu temenin kakak,"
"kemana kak?"
"ke pusat kota. Mau ya?"
'ck! Kenapa ada acara gini segala sich! Gak inget apa nie orang kejadian dulu! Mau ngomong apa ya, nolak juga gak enak' batin Nia memikirkan ide yang tepat untuk menolak ajakan kak Nanang.
"Nia???"
"..."
"gimana???"
"kayanya aku gak bisa dech kak,"
"kenapa???"
"aku udah janji sama Aila, temenin dia nonton konser di Semarang. Maaf ya kak,"
Aila yang mendengar namanya disebut ditambah lagi ia menjadi alasan Nia menolak ajakan kak Nanang. Ingin membantah tapi terlanjur pinggangnya di cubit oleh Nia.
"eh! I-iya kak!"
"gak bisa ya? Ya udah dech Nia kalau gitu gak papa kok,"
"maaf ya kak,"
"i-iya gak papa kok"
Kak Nanang beranjak pergi meninggalkan Nia dan Aila di taman belakang sekolah.
"gila loe!!! Kalau kak Nanang tahu loe bohong gimana?"
"enggak-enggak tenang aja! Ya udah yuk balik ke kelas"
Dikelas, mereka duduk berdampingan sebangku, deretan kedua dari arah timur bangku ke dua.
"seharusnya loe itu mau, diajak kak Nanang akhir bulan nanti, bukannya malah nolak!"
"ah, biarin. Aku juga udah males sama kak Nanang, coba aja waktu jadian dulu. Gak pernah tuch! Dia semanis itu. Dia yang buat aku kaya gini, menghapus kepercayaan aku ke dia! Jadi, jangan salahin aku!"
"tapi, kan...."
Ucapan Aila terpotong karna panggilan seorang laki-laki yang memasuki kelasnya.
"maaf dek ganggu sebentar. Nama yang saya panggil, ikut saya ya."
"..."
"Eka Kurnia Sari..."
DEG!
Nia merasakan namanya dipanggil, terlebih lagi orang yang memanggilnya itu...
'kak Anjar,'
Nia beranjak mengikuti kak Anjar, kini orang yang ia dambakan ada di depan matanya. Harus apa? Yang bisa hanya diam, membuntuti di belakangnya. Menunggunya sampai selesai memanggili anak-anak di kelas yang harus ikut dengannya.
BOSAN? Tapi ini momen terindah. Sekirang ia berada di depan ruang TU. 'ada apa?' fikirnya, memanggilnya segala. "ada apa kak?" tanya salah sqtu anak yang ikut menunggunya. "begini, kalian ambil perwakilan dari kelas kalian untuk ikut classmeeting dalam rangka hari ulang tahun sekolah, lusa depan," terang kak Anjar memberikan kertas yang ditangannya satu per satu. "kalian boleh kembali sekarang," katanya kemudian.
Nia berjalan menuju kelasnya. Kaku! 'dia...' ada di depan matanya? Seperti terhipnotis. Ada kala saat memperhatikannya, membuatnya seperti mayat hidup! Kaku dan dingin. Tanpa nyawa! Tapi, mengapa masih ada detakan?
#######
Hari ini tepat classmeeting di adakan. Semua persiapan telah dipersiapkan matang-matang. Siap untuk hari ini mencapai kemenangan kelas! Merebutkan piala tropi bergilir!
"Nia semuanya udah siap!" Aila memberitahu "okay, Han! Ayo, kamu ikut aku daftar ke panitia," ajak Nia pada Hani yang mewakili kelas lomba akting (teather). Nia dan Hani melangkah menuju tempat pendaftaran peserta lomba. Nia membawa sebuah buku di tangannya untuk jaga-jaga. Namun, tiba-tiba diambil oleh Hani tanpa Nia sadari. Isengnya, Hani menulis di bagian belakang buku '<3 Anjar' dan mengembalikannya lagi ke tangan Nia. Dan Nia tidak curiga sedikitpun. Sesampainya di tempat pendaftaran Nia meletakkan bukunya diatas meja disampingnya. Tanpa ia sadari, tiba-tiba Anjar datang dan berdiri tepat disamping Nia. Matanya didapati buku merah jambu yang tidak begitu tebal. Entah angin dari mana, diraihnya buku itu. Dan membuka tepat dibagian belakang buku.
Matanya membaca dua kali. Meresapi huruf-huruf kecil yang tertulis divpaking bawah. Kini, ia membelalakkan matanya.
"maksudnya....."
---------------------------
Bersambung ke part-2